MAKALAH RESUSITASI BAYI BARU LAHIR PDF

Pengertian Resusitasi Resusitasi merupakan sebuah upaya menyediakan oksigen ke otak, jantung dan organ-organ vital lainnya melalui sebuah tindakan yang meliputi pemijatan jantung dan menjamin ventilasi yang adekuat Rilantono, Tindakan ini merupakan tindakan kritis yang dilakukan pada saat terjadi kegawatdaruratan terutama pada sistem pernafasan dan sistem kardiovaskuler. Kegawatdaruratan pada kedua sistem tubuh ini dapat menimbulkan kematian dalam waktu yang singkat sekitar menit. Tindakan resusitasi merupakan tindakan yang harus dilakukan dengan segera sebagai upaya untuk menyelamatkan hidup Hudak dan Gallo, Resusitasi pada anak yang mengalami gawat nafas merupakan tindakan kritis yang harus dilakukan oleh perawat yang kompeten. Perawat harus dapat membuat keputusan yang tepat pada saat kritis.

Author:Kenris Jukora
Country:France
Language:English (Spanish)
Genre:Travel
Published (Last):13 January 2012
Pages:309
PDF File Size:13.31 Mb
ePub File Size:7.40 Mb
ISBN:501-4-60962-691-7
Downloads:7892
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Mauzuru



Penyebab utama kematian adalah aspiksia, komplikasi BBLR, tetanus neonatorum, dan trauma kelahiran terutama di negara berkembang. Resusitasi diperlukan oleh neonatus yang dalam beberapa menit pertama kehidupannya tidak dapat mengadakan ventilasi efektif dan perfusi adekuat untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi dan eliminasi karbondioksida, atau bila sistem kardiovaskular tidak cukup dapat memberi perfusi secara efektif kepada susunan saraf pusat, jantung dan organ vital lain.

Antisipasi penangganan dini bayi aspeksia dapat menghindarkan bayi tersebut dari kecacatan dan dampak yang merugikan. Yang paling penting adalah mencegah terjadinya aspeksia dengan perinatal care yang baik. Sedangkan apabila sudah terjadi aspeksia atau kegawatan napas yang lain.

Sebagian besar bayi baru lahir tidak memerlukan bantuan apapun agar dapat bernapas dengan efektif setelah dilahirkan, dan apabila mereka memerlukannya, sebagian besar hanya membutuhkan bantuan minimal. Beberapa memerlukan intubasi dan ventilasi sementara kebutuhan untuk menggunakan obat dan kompresi dada jarang diperlukan. Diperkirakan asfiksia perinatal merupakan penyebab seperlima semua kematian neonatal di seluruh dunia; tindakan resusitasi sederhana dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas yang disebabkan asfiksia perinatal.

Terdapat beberapa faktor resiko antepartum dan intrapartum in utero, seperti hipertensi yang disebabkan kehamilan PIH , gangguan pertumbuhan intra uterin IUGR , prematuritas, perdarahan antepartum APH , ruptur membran prematur PROM , dan sumbatan mekonium sehingga bayi memerlukan resusitasi. Pada benyak peristiwa, asfiksia terjadi tanpa diduga, jadi penting untuk memiliki personel yang cukup terlatih dalam hal resusitasi neonatal dengan piranti yang memadai pada waktu persalinan sedang berlangsung.

Bayi lahir namun kesulitan bernapas dan berat lahir rendah merupakan salah satu faktor penyebab AKB di Indonesia. Resusitasi pada anak yang mengalami gawat nafas merupakan tindakan kritis yang harus dilakukan oleh perawat yang kompeten. Perawat harus dapat membuat keputusan yang tepat pada saat kritis.

Kemampuan ini memerlukan penguasaan pengetahuan dan keterampilan keperawatan yang unik pada situasi kritis dan mampu menerapkannya untuk memenuhi kebutuhan pasien kritis Hudak dan Gallo, Angka Kematian Bayi AKB bisa ditekan melalui pembekalan dan pelatihan resusitasi neonatus kepada paramedis di tanah air. Tercatat sekitar 7. Paramedis itu antara lain terdiri dari dokter spesialis anak, anestesi, umum dan kebidanan.

Dalam kasus persalinan, kesulitan bernapas saat bayi lahir juga berdampak pada gagalnya proses persalinan, misalnya terkait dengan perjalanan yang jauh dari praktik kebidanan ke rumah sakit. Mampu melakukan pengkajian pada bayi baru lahir b. Mampu merumuskan diagnosa bayi baru lahir yang memerlukan tindakan resusitasi c. Mampu menyusun perencanaan tindakan yang akan dilakukan d. Mampu menerapkan rencana tindakan yang akan dilakukan e. MANFAAT Penulis mengharapkan laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua sebagai pertimbangan bagi calon tenaga kesehatan professional dalam memberikan pelayanan resusitasi pada bayi baru lahir.

Tindakan ini merupakan tindakan kritis yang dilakukan pada saat terjadi kegawatdaruratan terutama pada sistem pernafasan dan sistem kardiovaskuler.

Tindakan resusitasi merupakan tindakan yang harus dilakukan dengan segera sebagai upaya untuk menyelamatkan hidup Hudak dan Gallo, Sirkulasi darah berubah dari sirkulasi janin ke sirkulasi dewasa. Pada saat bayi dilahirkan dan terjadi pernapasan alveoli yang padea saat belum lahir berisi air,akan berkembang dengan berisi udara.

Aliran darah ke paru akan bertambah karena oksigen yang didapat bayi akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah paru. Ekspansi paru segera pada waktu lahir memerlukan tekanan ventilasi yang lebih tinggi dibandingkan pada tahap lainnya masa bayi. Kegagalan ekspansi ruang alveolar yang adekuat dapat terjadi pada hipoksemia dan asfiksia. Asfiksia menyebabkan hipoksia progresif, hiperkapnia, hipoperfusi dan asidosis. Konsekuensi dari hipoksia dan asidosis adalah vasokonstriksi paru, pembukaan duktus arteriosus, right-to-left shunting, disfungsi myokard, output jantung kurang, asidosis metabolik dan kerusakan sistem organ.

Pada hipoksia janin, setelah beberapa kali napas dangkal pusat respirasi tidak dapat melanjutkan inisiasi pernapasan sehingga pernapasan berhenti.

Hal ini disebut apnu primer. Sebagian besar neonatus dengan apnu primer merespon stimulasi saja. Jika hipoksia menetap, bayi mulai terengah. Periode antara engahan terakhir dan cardiac arrest disebut apnu skunder. Secara klinis, tidak mungkin membedakan apnu primer dan sekunder.

Karenanya penting untuk menduga bayi apnu mengalami apnu sekunder. Penatalaksanaannya berupa bag and mask ventilation, kompresi dada, intubasi dan obat-obatan. Kualitas pelayanan antenatal sesuai tingkat pelayanan masih belum memadai sehingga kehamilan risiko tinggi mungkin tidak mendapat pelayanan yang tepat. Penyakit ibu dapat lebih mudah diketahui, tetapi keadaan dan fungsi plasenta serta keadaan janin sulit diketahui.

Gerakan janin mungkin dapat dipakai sebagai patokan kesejahteraan janin, walaupun mungkin sangat kasar. Besar janin dapat disebagai pertanda nutrisi janin masih adekuat tetapi suplai oksigen mungkin amat sukar untuk diketahui.

Pengenalan dan kesadaran akan adanya faktor risiko merupakan awal dari proses rujukan. Sejak saat lahir bayi dapat mengalami cedera seperti trauma lahir, trauma dingin, renjatan, resusitasi yang tidak adekuat atau infeksi. Bayi risiko tinggi memerlukan perawatan intensif, untuk itu pengenalan faktor risiko dan proses rujukan merupakan kunci keberhasilan usaha menurunkan kematian perinatal. Untuk itu perlu ditingkatkan terus usaha promosi ASI dan byi baru lahir yang memerlukan resusitasi adalah program rawat gabung.

Kondisi yang memerlukan resusitasi neonatus misalnya : 1. Resusitasi lebih penting diperlukan pada menit-menit pertama kehidupan.

Jika terlambat, bisa berpengaruh buruk bagi kualitas hidup individu selanjutnya. Penting untuk resusitasi yang efektif : 1. Tenaga yang terampil, tim kerja yang baik 2. Pemahaman tentang fisiologi dasar pernapasan, kardiovaskular, serta proses asfiksia yang progresif 3. Prinsip-prinsip umum prosedur resusitasi neonatus Prinsip resusitasi neonatus : T temperature , baru kemudian A-B-C-D Pengaturan suhu Semua neonatus dalam keadaan apapun mempunyai kesukaran untuk beradaptasi pada suhu lingkungan yang dingin.

Bila diletakkan dekat ibunya, bayi dan ibu hendaknya diselimuti dengan baik. Namun harus diperhatikan pula agar tidak terjadi pemanasan yang berlebihan pada tubuh bayi. Tindakan resusitasi pada bayi sebaiknya dilakukan pada suatu meja yang telah dilengkapi dengan peralatan resusitasi. Penilaian status klinik Digunakan penilaian Apgar untuk menentukan keadaan bayi pada menit ke 1 dan ke 5 sesudah lahir.

Nilai pada menit pertama : untuk menentukan seberapa jauh diperlukan tindakan resusitasi. Nilai ini berkaitan dengan keadaan asidosis dan kelangsungan hidup Nilai pada menit kelima : untuk menilai prognosis neurologik.

Ada pembatasan dalam penilaian Apgar ini, yaitu : 1. Keputusan perlu tidaknya resusitasi maupun penilaian respons resusitasi dapat cukup dengan menggunakan evaluasi frekuensi jantung, aktifitas respirasi dan tonus neuromuskular, daripada dengan nilai Apgar total.

Hal ini untuk menghemat waktu. Perencanaan berdasarkan perhitungan nilai Apgar: 1. Dilakukan stimulasi sensorik dengan tepokan atau sentilan pada telapak kaki dan gosokan selimut kering pada punggung.

Frekuensi jantung dan respirasi terus dipantau ketat. Bila frekuensi jantung menurun atau ventilasi tidak adekuat, harus diberikan ventilasi tekanan positif dengan kantong resusitasi dan sungkup muka. Jika tidak ada alat bantu ventilasi, gunakan teknik pernapasan buatan dari mulut ke hidung-mulut. Nilai Apgar menit pertama 3 atau kurang : Bayi mengalami depresi pernapasan yang berat dan orofaring harus cepat diisap. Kecukupan ventilasi dinilai dengan memperhatikan gerakan dinding dada dan auskultasi bunyi napas.

Jika frekuensi jantung tidak meningkat sesudah kali napas, kompresi jantung harus dimulai. Frekuensi : sampai kali per menit, dengan 1 kali ventilasi setiap 5 kali kompresi JIKA frekuensi jantung tetap di bawah kali per menit setelah menit, usahakan melakukan intubasi endotrakea. Gunakan laringoskop dengan daun lurus Magill. Gunakan stilet untuk menuntun jalan pipa. Stilet jangan sampai keluar dari ujung pipa. Posisi pipa diperiksa dengan auskultasi.

Kalau frekuensi jantung tetap kurang dari setelah intubasi, berikan 0. Dapat juga secara intrakardial atau intratrakeal, tapi lebih dianjurkan secara intravena. Jika tidak ada ahli yang berpengalaman untuk memasang infus pada vena perifer bayi, lakukan kateterisasi vena atau arteri umbilikalis pada tali pusat, dengan kateter umbilikalis. Sebelum penyuntikan obat, harus dipastikan ada aliran darah yang bebas hambatan.

Bila bradikardia menetap : ulangi dosis adrenalin. Asidosis respiratorik : dikoreksi dengan memperbaiki ventilasi Asidosis metabolik : dikoreksi dengan infus natrium bikarbonat dan cairan ekspansi volume darah.

Ada 3 masalah penting berkaitan dengan pemberian natrium bikarbonat pada bayi : 1. Bila diberikan dengan cepat dan dalam jumlah besar akan mengekspansi volume intravaskular.

Hendaknya natrium bikarbonat HANYA diberikan jika ventilasi adekuat, atau telah terpasang ventilasi mekanik yang baik. Pemberian bikarbonat dapat pula menyebabkan hipotensi. Untuk monitoring : periksa darah arteri umbilikalis untuk analisis gas darah. Bila perlu lakukan kanulasi vena sentral untuk membantu menentukan balans cairan. Penyulit yang mungkin terjadi selama resusitasi Hipotermia Dapat memperberat keadaan asidosis metabolik, sianosis, gawat napas, depresi susunan saraf pusat, hipoglikemia.

Pneumotoraks ventilasi tekanan positif dengan inflasi yang terlalu cepat dan tekanan yang terlalu besar dapat menyebabkan komplikasi ini. Jika bayi mengalami kelainan membran hialin atau aspirasi mekonium, risiko pneumotoraks lebih besar karena komplians jaringan paru lebih lemah. Selain itu, infus larutan hipertonik melalui pembuluh darah tali pusat juga dapat mengakibatkan nekrosis hati dan trombosis vena.

MANUAL DE APLICACION WISC IV PDF

RESUSITASI BAYI BARU LAHIR

Air ketuban bercampur mekonium: Lakukan resusitasi sesuai dengan indikasinya. Lakukan penilaian usia kehamilan dan air ketuban sebelum bayi lahir. Penilaian ini menjadi dasar keputusan apakah bayi perlu resusitasi. Penundaan pertolongan membahayakan bayi. Letakkan bayi di tempat yang kering. Pemotongan tali pusat dapat dilakukan di atas perut ibu atau dekat perineum. Pemotongan Tali Pusat: Pola di atas perut ibu Bidan yang sudah terbiasa dan terlatih meletakkan bayi di atas kain yang ada di perut ibu dengan posisi kepala lebih rendah sedikit ekstensi , lalu selimuti dengan kain, dibuka bagian dada dan perut dan potong tali pusat.

AGPEYA PDF

MAKALAH BAYI BARU LAHIR (NEONATUS)

Penilaian apakah bayi menangis atau bernapas spontan dan teratur 1. Jaga bayi tetap hangat: Letakkan bayi di atas kain yang ada di atas perut ibu atau dekat perineum Selimuti bayi dengan kain tersebut, potong tali pusat. Pindahkan bayi ke atas kain ke tempat resusitasi. Atur posisi bayi Baringkan bayi terlentang dengan kepala di dekat penolong. Ganjal bahu agar kepala sedikit ekstensi. Isap lendir Gunakan alat pengisap lendir DeLee atau bola karet. Pertama, isap lendir di dalam mulut, kemudian baru isap lendir di hidung.

CISCO 8455DVB HANDLEIDING PDF

MAKALAH “ RESUSITASI”

Penyebab utama kematian adalah aspiksia, komplikasi BBLR, tetanus neonatorum, dan trauma kelahiran terutama di negara berkembang. Resusitasi diperlukan oleh neonatus yang dalam beberapa menit pertama kehidupannya tidak dapat mengadakan ventilasi efektif dan perfusi adekuat untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi dan eliminasi karbondioksida, atau bila sistem kardiovaskular tidak cukup dapat memberi perfusi secara efektif kepada susunan saraf pusat, jantung dan organ vital lain. Antisipasi penangganan dini bayi aspeksia dapat menghindarkan bayi tersebut dari kecacatan dan dampak yang merugikan. Yang paling penting adalah mencegah terjadinya aspeksia dengan perinatal care yang baik. Sedangkan apabila sudah terjadi aspeksia atau kegawatan napas yang lain. Sebagian besar bayi baru lahir tidak memerlukan bantuan apapun agar dapat bernapas dengan efektif setelah dilahirkan, dan apabila mereka memerlukannya, sebagian besar hanya membutuhkan bantuan minimal. Beberapa memerlukan intubasi dan ventilasi sementara kebutuhan untuk menggunakan obat dan kompresi dada jarang diperlukan.

Related Articles