MANAWA DHARMASASTRA PDF

Manusia dalam kehidupannya sebagai umat beragama dan sebagai warga negara akan tunduk pada dua kekuasaan hukum yaitu : 1. Ketentuan mengenai Weda sebagai sumber hukum dapat kita lihat dalam penjelasan kitab Manawa Dharmasastra II. Artinya Seluruh weda merupakan sumber utama dari pada dharma agama Hindu kemudian barulah smrti di samping kebiasaan-kebiasaan yang baik dari orang-orang yang menghayati weda. Kemudian secara tradisi dari orang-orang suci serta akhirnya atmanastuti rasa puas diri sendiri.

Author:Tojazshura Faukasa
Country:Uzbekistan
Language:English (Spanish)
Genre:Photos
Published (Last):15 July 2005
Pages:259
PDF File Size:11.40 Mb
ePub File Size:19.67 Mb
ISBN:531-4-78919-517-4
Downloads:10193
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Mishakar



Tahapan-tahapan kehidupan itu adalah Catur Asrama. Catur Asrama adalah empat tahap yang dijalani oleh Hindu untuk mendapatkan keharmonisan hidup. Tugas serta kewajiban pun disesuaikan dengan tahapan tersebut.

Setiap orang harus belajar berguru. Segala tenaga dan pikirannya benar- benar diarahkan kepada kemantapan belajar, serta upaya pengembangan ketrampilan sebagai bekal hidupnya kelak. Masa Grehasta Asrama ini adalah merupakan tingkatan kedua setelah Brahmacari Asrama. Oleh karena itu penggunaan Artha dan Kama sangat penting artinya dalam membina kehidupan keluarga yang harmonis dan manusiawi berdasarkan Dharma.

Pada masa ini hidupnya diabdikan kepada pengamalan ajaran Dharma. Yang diabdikan adalah nilai- nilai dari keutamaan Dharma dan hakekat hidup yang benar. Pada masa ini banyak dilakukan kunjungan Dharma yatra, Tirtha yatra ke tempat suci, di mana seluruh sisa hidupnya hanya diserahkan kepada Sang Hyang Widhi Wasa untuk mencapai Moksa. Dari keempat Catur Asrama itu, maka Wiwaha merupakan bagian yang kedua dari tahapan kehidupan tersebut.

Grehasta menjadikan seorang Hindu untuk berkeluarga dan melaksanakan kewajibannya yang juga berfokus untuk melaksanakan pencarian Artha dan Kama berdasarkan Dharma. Kewajiban yang lain adalah bagaimana memiliki keturunan untuk memberikan lanjutan keanggotaan keluarga kepada anak-anaknya. Namun kesakralan itu pun memiliki jenis-jenis tertentu dalam tingkatannya. Jenis-jenis pawiwahan itu adalah membedakan bagaimana sifat-sifat perkawinan yang dipandang baik serta kurang baik di mata Hindu.

Untuk melihat jenis-jenis perkawinan itu, maka dapat ditelaah pada kitab Manu smreti atau Manawa Dharmasastra. Manawa Dharmashastra adalah satu kitab hukum Hindu adalah kitab Smrti lainnya. Smrti merupakan kelompok kedua secara hierarkis sesudah kelompok Sruti kelompok kitab-kitab Wahyu , yang dipandang sebagai kitab hukum Hindu karena didalamnya banyak memuat syariat dalam bahasa Arab Hindu yang disebut Dharma.

Karena itu, kitab Smrti juga disebut sebagai Dharmashastra. Dalam hal ini, Dharma berarti hukum dan Shastra berarti ilmu. Manawa Dharmasastra diajarkan oleh Manu, yang kemudian dikompilasikan oleh Maharshi Brghu. Inilah kitab hukum pertama dalam Hindu. Menurut mithologinya, Manu mendiktekan hukumnya ini dalam seratus ribu sloka kepada Maharshi Brghu, yang pada gilirannya mengajarkan kepada Rshi Narada. Narada, berdasarkan pertimbangannya mengurangi aturan itu menjadi dua belas ribu sloka.

Kitab hukum ini kemudian dikurangi lagi menjadi delapan ribu sloka oleh Rshi Markandeya. Percaya atau tidak, Rshi yang lain, Sumanthu, menguranginya lagi menjadi empat ribu sloka. Akhirnya, Rshi lain yang tidak dikenal, mengurangi lagi menjadi 2. Manawa Dharmashastra, seperti yang dikenal sekarang ini, terdiri dari 12 Adhyaya bab atau buku yang memuat 18 aspek hukum atau Wyawahara yang dapat dikategorikan dalam bentuk hukum perdata agama, pidana serta peraturan-peraturan yang bersifat mengatur kehidupan sosial kemasyarakatan secara umum.

Jadi ia merupakan kitab hukum Hindu dengan cakupan bahasan yang amat lengkap, luas dan ber-relevansi keluar maupun kedalam. Hal tersebut dapat dilihat pada bagian berikut. Manawa Dharmasastra III. Dan menurut penjelasan di atas, enam jenis pernikahan yang pertama itu sah yang berarti boleh dilakukan dan disahkan menurut hukum ini, sedangkan cara kedua terakhir tidak boleh disahkan karena melawan hukum kecuali ketentuan lain.

Dari keenam jenis ini lebih jauh ditentkan pula mana yang baik karena member pahala dan mana yang tidak layak dilakukan oleh tiap-tiap warna karena dapat menimbulkan penderitaan kalau dilakukan. Empat terakhir baik dilakukan bagi golongan ksatrya, waisya dan sudra, sedangkan bagi Ksatrya, perkawinan secara raksasa dapat pula dibenarkan. Paradox ini karena jaman dahulu raja-raja memerangi musuh untuk mengawini seseorang sering terjadi sehingga perkawinan semacam itu tidak dapat dielakkan.

Pengertian dari jenis-jenis perkawinan itu, maka dapat dilihat sebagai berikut : Manawa Dharmasastra III. Pengantin pun sebelumnya diberi perhiasan-perhisan sebelum dinikahkan. Dijelaskan pula dalam Arsa wiwaha istilah kanya dhana adalah lembu-lembu tersebut yang disertakan dalam perkawinan adalah sebagai maskawin dan bukan sebagai nilai tukar.

Mempelai wanita dan lelaki disyaratkan untuk bisa melaksanakan kewajiban sebagai sepasang suami istri dalam grehasta asrama. Kasus yang ada dapat dilihat pada perkawinan Raja Dusyanta dan Sakuntala yang melahirkan seorang putra, Bharata.

Dijelaskan juga sebelumnya bahwa bagaimana ada pernikahan yang memang disahkan menurut weda serta ada yang dijauhi. Hal itu disebabkan bahwa akan ada karma yang menyusul untuk pernikahan-pernikahan yang telah dijelaskan tersebut. Dalam Manawa Dharmasastra juga menyebutkan hal tersebut. Selain itu pula akan mendapatkan putra putri yang suputra dan gemilang dalam pengetahuan Weda yang dimuliakan oleh orang-orang budiman.

Namun kebalikannya, empat pernikahan yang lainnya akan niscaya memiliki keturunan serta karma yang buruk bagi suatu kelanjutan pernikahan tersebut. Dan tidak disarankan oleh weda untuk melaksanakannya. Hal itu dapat dijelaskan dalam ayat berikut: Manawa Dharmasastra. Ninditairnindita nrrnam tasmannindyan wiwarja yet. Perkawinan yang tercela itu akan juga menghadirkan putra-putri yang kurang baik menurut weda. Keturunan yang ada akan menjadi kejam, serta bersifat kasar, suka berbohong dan membenci Weda tidak suka belajar dan apatis terhadap agama.

Sungguh pun pernikahan jenis ini jangan untuk diikuti atau dilaksanakan dalam kehidupan ini. Dari penjelasan jenis-jenis pernikahan di atas, maka etika- etika yang ada akan inti-inti pernikahan yang sesuai weda, sangatlah berhubungan erat dengan hasil yang akan dicapai dari pernikahan tersebut. Maksud hasil itu adalah pahala serta hal-hal baik atau hal buruk yang akan terjadi jika pernikahan dilaksanakan dalam kehidupan ini.

Empat yang pertama yaitu brahma wiwaha, daiwa wiwaha, arsa wiwaha serta prajapati wiwaha adalah pernikahan yang baik nilainya yang dijanjikan pasti akan mendapatkan keturunan yang suputra pula. Di samping itu akan menghapus beberapa tingkatan dosa-dosa leluhur kita serta kehidupan beberapa tingkatan keturunan kita. Itu pasti dijelaskan dalam pembahasan Weda Smreti Manawa Dharmasastra.

Yaitu pahala akan keturunannya menghasilkan pula keturunan tercela yang kejam, pembohong, serta tidak menyukai apa itu agama serta membenci weda.

Hal itu juga dijelaskan dalam beberapa ayat Manawa Dharmasastra tersebut. Perkawinan ini sekehendaknya agar dihindari dalam kehidupan manusia ini. Yang ditekankan adalah dengan mengetahui apa-apa jenis pernikahan yang ada dalam Manawa Dharmasastra, maka sekehendaknyalah mereka brahmacaryan yang sedang dalam tahap pembelajaran sebelum mencapai tahap grehasta melakukan pengekangan diri serta perencanaan yang lebih matang untuk meningkat kepada tahap-tahap selanjutnya.

Hal ini diupayakan agar brahmacaryan memiliki kehidupan yang berkualitas dan bermakna dalam kehidupan menjadi manusia ini. Daftar Pustaka Annata Gotama, Mengenal lebih dekat kitab suci Manawa Dharmasastra.

Penerbit Hanuman Sakti. Catur Asrama. Bagikan ini:.

ANVIZ C2 PDF

Jenis-jenis Pawiwahan dalam Manawa Dharmasastra (Manu Smreti)

Manawa Dharmasastra ,4. Karena itu, kitab Smrti juga disebut sebagai Dharmashastra. Dalam hal ini, Dharma berarti hukum dan Shastra berarti ilmu. Manawa Dharmashastra merupakan kitab hukum pertama dalam Hindu. Menurut mithologinya, Manu mendiktekan hukumnya ini dalam seratus ribu sloka kepada Maharshi Brghu, yang pada gilirannya mengajarkan kepada Rshi Narada. Narada, berdasarkan pertimbangannya mengurangi aturan itu menjadi dua belas ribu sloka.

ALGAS PYRROPHYTAS PDF

Dharmaśāstra

Tahapan-tahapan kehidupan itu adalah Catur Asrama. Catur Asrama adalah empat tahap yang dijalani oleh Hindu untuk mendapatkan keharmonisan hidup. Tugas serta kewajiban pun disesuaikan dengan tahapan tersebut. Setiap orang harus belajar berguru. Segala tenaga dan pikirannya benar- benar diarahkan kepada kemantapan belajar, serta upaya pengembangan ketrampilan sebagai bekal hidupnya kelak. Masa Grehasta Asrama ini adalah merupakan tingkatan kedua setelah Brahmacari Asrama. Oleh karena itu penggunaan Artha dan Kama sangat penting artinya dalam membina kehidupan keluarga yang harmonis dan manusiawi berdasarkan Dharma.

C VON A BIS Z OPENBOOK PDF

Manawa Dharmasastra II.6

Dalam mengarungi kehidupan berumah tangga tentu saja semuanya tak akan berjalan mulus, akan ada saat saat cekcok dan pertengkaran, terlebih mereka tak mengerti apa tugas dan tanggung jawab suami istri. Kepada sesama manusia Manusa Yadnya. Kepada Alam semesta Bhuta yadnya. Selain kewajiban panca yadnya tersebut diatas, setiap unsur dalam keluarga Hindu memiliki kewajiban masing-masing antara lain: Kewajiban Suami. Mameyam astu posyaa, mahyam tvaadaad brhaspatih, mayaa patyaa prajaavati, sam jiiva saradah satam Atharvaveda XIV.

Related Articles