INDIKASI OPERASI PTERYGIUM PDF

Jika dibiarkan dalam waktu yang lama, maka pterygium dapat meluas dan mengganggu penglihatan mata. Apabila sudah mulai menganggu penglihatan, maka langkah yang biasanya dilakukan ialah mengangkat selaput bening tersebut melalui operasi pterygium. Efek samping operasi pterygium diantaranya adalah : Infeksi Pasca Operasi: Terjadinya infeksi pasca operasi dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah terdapat standar kerja operasi yang terlewatkan. Penglihatan Ganda: Penglihatan ganda atau yang dikenal juga dengan diplopia merupakan suatu kondisi dimana anda seperti melihat dua benda dalam satu wujud yang jaraknya dekat. Diplopia juga merupakan efek samping operasi pterygium yang sering terjadi.

Author:Dakora Arajind
Country:Italy
Language:English (Spanish)
Genre:Personal Growth
Published (Last):26 May 2018
Pages:437
PDF File Size:2.26 Mb
ePub File Size:1.60 Mb
ISBN:206-8-58206-922-9
Downloads:67341
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Kazralkree



Pterigium pterygium adalah kelainan pada konjungtiva bulbi, pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini biasanya terdapat pada celah kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke daerah kornea.

Pterigium berbentuk segitiga dengan puncak di bagian sentral atau di daerah kornea. Pterigium mudah meradang dan bila terjadi iritasi, maka bagian pterigium akan berwarna merah. Pterigium sering mengenai kedua mata. Timbunan atau benjolan ini membuat penderitanya agak kurang nyaman karena biasanya akan berkembang dan semakin membesar dan mengarah ke daerah kornea, sehingga bisa menjadi menutup kornea dari arah nasal dan sampai ke pupil, jika sampai menutup pupil maka penglihatan kita akan terganggu.

Suatu pterygium merupakan massa ocular eksternal superficial yang mengalami elevasi yang sering kali terbentuk diatas konjungtiva perilimbal dan akan meluas ke permukaan kornea. Pterygia ini bisa sangat bervariasi, mulai dari yang kecil, jejas atrofik yang tidak begitu jelas sampai yang besar sekali, dan juga jejas fibrofaskular yang tumbuhnya sangat cepat yang bisa merusakkan topografi kornea dan dalam kasus yang sudah lanjut, jejas ini kadangkala bisa menutupi pusat optik dari kornea.

Kondisi pterygium akan terlihat dengan pembesaran bagian putih mata, menjadi merah dan meradang. Dalam beberapa kasus, pertumbuhan bisa mengganggu proses cairan mata atau yang disebut dry eye syndrome.

Sekalipun jarang terjadi, namun pada kondisi lanjut atau apabila kelainan ini didiamkan lama akan menyebabkan hilangnya penglihatan si penderita. Evakuasi medis dari dokter mata akan menentukan tindakan medis yang maksimal dari setiap kasus, tergantung dari banyaknya pembesaran pterygium.

Dokter juga akan memastikan bahwa tidak ada efek samping dari pengobatan dan perawatan yang diberikan. Berdasarkan Tipenya pterygium dibagi atas 3 : a. Tipe I : Pterygium kecil, dimana lesi hanya terbatas pada limbus atau menginvasi kornea pada tepinya saja. Lesi meluas 4 mm dan mengganggu aksis visual.

Lesi yang luas khususnya pada kasus rekuren dapat berhubungan dengan fibrosis subkonjungtiva yang meluas ke forniks dan biasanya menyebabkan gangguan pergerakan bola mata serta kebutaan 2.

Berdasarkan stadium pterygium dibagi ke dalam 4 stadium yaitu: Stadium I : jika pterygium hanya terbatas pada limbus kornea Stadium II : jika pterygium sudah melewati limbus dan belum mencapai pupil, tidak lebih dari 2 mm melewati kornea.

Stadium III : jika pterygium sudah melebihi stadium II tetapi tidak melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal diameter pupil sekitar mm. Stadium IV : jika pertumbuhan pterygium sudah melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan. Berdasarkan perjalanan penyakitnya, pterygium dibagi menjadi 2 yaitu: a. Pterygium progresif : tebal dan vaskular dengan beberapa infiltrat di kornea di depan kepala pterygium disebut cap dari pterygium.

Pterygium regresif : tipis, atrofi, sedikit vaskular. Akhirnya menjadi bentuk membran, tetapi tidak pernah hilang. Berdasarkan terlihatnya pembuluh darah episklera di pterygium dan harus diperiksa dengan slit lamp pterygium dibagi 3 yaitu: a.

T1 atrofi : pembuluh darah episkleral jelas terlihat b. T2 intermediet : pembuluh darah episkleral sebagian terlihat c. T3 fleshy, opaque : pembuluh darah tidak jelas. Namun ada teori yang dikemukakan 1. Paparan sinar matahari UV Paparan sinar matahari merupakan faktor yang penting dalam perkembangan terjadinya pterigium. Hal ini menjelaskan mengapa insidennya sangat tinggi pada populasi yang berada pada daerah dekat equator dan pada orang —orang yang menghabiskan banyak waktu di lapangan.

UV-B merupakan mutagenik untuk p53 tumor supressor gen pada stem sel limbal. Tanpa apoptosis, transforming growth factor-beta over produksi dan memicu terjadinya peningkatan kolagenasi, migrasi seluler, dan angiogenesis.

Selanjutnya perubahan patologis yang terjadi adalah degenerasi elastoid kolagen dan timbulnya jaringan fibrovaskuler subepitelial. Kornea menunjukkan destruksi membran Bowman akibat pertumbuhan jaringan fibrovaskuler.

Iritasi kronik dari lingkungan udara, angin, debu Faktor lainnya yang berperan dalam terbentuknya pterigium adalah alergen, bahan kimia berbahaya, dan bahan iritan angin, debu, polutan. Faktor risiko yang mempengaruhi antara lain : 1. Usia Prevalensi pterygium meningkat dengan pertambahan usia banyak ditemui pada usia dewasa tetapi dapat juga ditemui pada usia anak-anak. Tan berpendapat pterygium terbanyak pada usia dekade dua dan tiga.

Pekerjaan Pertumbuhan pterygium berhubungan dengan paparan yang sering dengan sinar UV. Tempat tinggal Gambaran yang paling mencolok dari pterygium adalah distribusi geografisnya.

Distribusi ini meliputi seluruh dunia tapi banyak survei yang dilakukan setengah abad terakhir menunjukkan bahwa negara di khatulistiwa memiliki angka kejadian pterygium yang lebih tinggi. Survei lain juga menyatakan orang yang menghabiskan 5 tahun pertama kehidupannya pada garis lintang kurang dari memiliki risiko penderita pterygium 36 kali lebih besar dibandingkan daerah yang lebih selatan.

Jenis kelamin Tidak terdapat perbedaan risiko antara laki-laki dan perempuan. Herediter Pterygium diperengaruhi faktor herediter yang diturunkan secara autosomal dominan. UV-B merupakan faktor mutagenik bagi tumor supressor gene p53 yang terdapat pada stem sel basal di limbus. Akibatnya terjadi perubahan degenerasi kolagen dan terlihat jaringan subepitelial fibrovaskular. Jaringan subkonjungtiva mengalami degenerasi elastoid degenerasi basofilik dan proliferasi jaringan granulasi fibrovaskular di bawah epitel yaitu substansia propia yang akhirnya menembus kornea.

Kerusakan kornea terdapat pada lapisan membran Bowman yang disebabkan oleh pertumbuhan jaringan fibrovaskular dan sering disertai dengan inflamasi ringan. Kerusakan membran Bowman ini akan mengeluarkan substrat yang diperlukan untuk pertumbuhan pterygium.

Epitel dapat normal, tebal atau tipis dan kadang terjadi displasia. Limbal stem cell adalah sumber regenerasi epitel kornea. Pada keadaan defisiensi limbal stem cell, terjadi konjungtivalisasi pada permukaan kornea. Gejala dari defisiensi limbal adalah pertumbuhan konjungtiva ke kornea, vaskularisasi, inflamasi kronis, kerusakan membran basement dan pertumbuhan jaringan fibrotik. Tanda ini juga ditemukan pada pterygium dan oleh karena itu banyak penelitian yang menunjukkan bahwa pterygium merupakan manifestasi dari defisiensi atau disfungsi localized interpalpebral limbal stem cell.

Pterygium ditandai dengan degenerasi elastotik dari kolagen serta proliferasi fibrovaskuler yang ditutupi oleh epitel. Pada pemeriksaan histopatologi daerah kolagen abnormal yang mengalami degenerasi elastolik tersebut ditemukan basofilia dengan menggunakan pewarnaan hematoxylin dan eosin, Pemusnahan lapisan Bowman oleh jaringan fibrovascular sangat khas.

Epitel diatasnya biasanya normal, tetapi mungkin acanthotic, hiperkeratotik, atau bahkan displastik dan sering menunjukkan area hiperplasia dari sel goblet 2. Mata irritatatif, merah gatal dan mungkin menimbulkan astigmatisme 2. Kemunduran tajam penglihatan akibat pteregium yang meluas ke kornea Zone Optic 3.

Dapat diserati keratitis Pungtata, delen Penipisan kornea akibat kering dan garis besi yang terletak di ujung pteregium. Gangguan penglihatan Komplikasi dari pterygium meliputi sebagai berikut: 1. Penyimpangan atau pengurangan pusat penglihatan 2. Kemerahan 3. Iritasi 4. Bekas luka yang kronis pada konjungtiva dan kornea Keterlibatan yang luas otot extraocular dapat membatasi penglihatan dan memberi kontribusi terjadinya diplopia.

Bekas luka yang berada ditengah otot rektus umumnya menyebabkan diplopia pada pasien dengan pterygium yang belum dilakukan pembedahan. Pada pasien dengan pterygia yang sudah diangkat, terjadi pengeringan focal kornea mata akan tetapi sangat jarang terjadi.

Komplikasi postooperasi pterygium meliputi.

HUSQVARNA 223L MANUAL PDF

Indikasi Operasi Sesar Emergensi dan Elektif (Caesar)

Pterigium pterygium adalah kelainan pada konjungtiva bulbi, pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini biasanya terdapat pada celah kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke daerah kornea. Pterigium berbentuk segitiga dengan puncak di bagian sentral atau di daerah kornea. Pterigium mudah meradang dan bila terjadi iritasi, maka bagian pterigium akan berwarna merah. Pterigium sering mengenai kedua mata. Timbunan atau benjolan ini membuat penderitanya agak kurang nyaman karena biasanya akan berkembang dan semakin membesar dan mengarah ke daerah kornea, sehingga bisa menjadi menutup kornea dari arah nasal dan sampai ke pupil, jika sampai menutup pupil maka penglihatan kita akan terganggu.

INDESIT WITL 120 NOTICE PDF

Perawatan Pasca Operasi Pterygium yang Perlu Diperhatikan

LINE Indikasi operasi sesar terbagi menjadi medis dan non medis. Operasi sesar adalah tindakan melahirkan bayi melalui dinding anterior abdomen, dengan tindakan pembedahan. Tindakan ini meliputi incisi, dinding abdomen, incisi uterus, hingga penjahitan irisan. Tindakan ini dilakukan oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Indikasi dilakukan operasi ini beragam. Ada indikasi medis dan nonmedis.

A DESCOBERTA DO ESPRITO BRUNO SNELL PDF

8 Efek Samping Operasi Pterigium yang Perlu Diwaspadai

Vukus Amniotic membrane is the innermost layer of the placenta consisting of a thick basement membrane and an avascular stromal matrix. Gastritis kronis Keganasan sekunder di nodus limfe axilla Karsinoma mammae Diagnosis Sekunder: Clinical trials suggest that AM transplantation promotes epithelialization and differentiation of the indiiasi of the ocular surface 5 — 9. Pilihlah Kode subkategori yang sesuai untuk diagnosis utama sebagaimana dipilih oleh dokter penanggung jawab pelayanan DPJP. Diabetes Melitus tergantung insulin dengan nefropati, gangren, dan katarak.

Related Articles